MIU Login

Spektakuler! Ramadan di Perantauan Jadi Ajang Transformasi Karakter Mahasantri UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Malang, 5 maret 2026 Menjadi mahasiswa rantau sekaligus mahasantri di Ma’had Al-Jamiah bukanlah hal yang mudah, apalagi saat menjalani ibadah di bulan suci Ramadan. Namun, di balik tantangan tersebut, tersimpan pengalaman luar biasa yang penuh makna, sebagaimana dibagikan oleh Dini Aulia Putri, mahasiswi Program Studi Tadris Matematika angkatan 2025 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.          

Dalam podcast resmi Ma’had Sunan Ampel Al-Ali (MSAA) bertajuk “Ramadan di Perantauan: Berat atau Berkah?”, Dini tampil sebagai salah satu narasumber yang membagikan kisahnya menjalani Ramadan pertama sebagai mahasantri sekaligus mahasiswa rantau asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dini mengungkapkan bahwa awal merantau bukanlah hal yang mudah. Ia mengalami culture shock, terutama dalam hal bahasa dan lingkungan sosial. Tinggal di Mabna Ummu Salamah membuatnya harus beradaptasi dengan teman-teman yang sehari-hari menggunakan bahasa Jawa. Meski sempat merasa kebingungan, pengalaman tersebut justru memotivasinya untuk belajar dan berbaur.

“Awalnya bingung, tapi lama-lama jadi tertarik belajar bahasa Jawa,” ungkapnya dalam podcast tersebut.

Pembahasan semakin menarik ketika para narasumber mengungkap rutinitas Ramadan di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali (MSAA). Meski tidak lagi dibangunkan sahur oleh orang tua, kehidupan di Ma’had justru membentuk kemandirian dan kedisiplinan yang luar biasa. Mereka belajar mengatur waktu sendiri, membagi antara tugas kuliah dan kegiatan keagamaan seperti taklim.

Tak hanya itu, Dini juga merasakan atmosfer belajar yang sangat suportif dan kompetitif. Lingkungan teman-teman yang “ambis” justru menjadi pemicu semangat untuk berkembang lebih baik. Dari situlah ia menemukan makna baru tentang keluarga bukan hanya dari darah, tetapi dari kebersamaan di perantauan.

Gambar 1 Foto bersama narasumber dan host setelah sesi podcast selesai

Dini menegaskan bahwa masuk UIN Malang adalah sebuah privilege. Ia menyebut sistem Ma’had sebagai “kawah candradimuka” yang menempa mahasiswa tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara karakter dan spiritual.

“Jangan lihat capeknya, lihat hasilnya! Kita lulus bukan cuma bawa ijazah, tapi bawa karakter!” tegasnya penuh energi.

Kisah inspiratif para narasumber dalam podcast tersebut diharapkan membuka perspektif mahasiswa, khususnya Tadris Matematika, bahwa keseimbangan antara prestasi akademik dan pembentukan karakter menjadi kunci utama dalam mencetak generasi unggul dan berakhlak mulia.

Tonton selengkapnya di kanal YouTube MSAA UIN MALANG: https://youtu.be/bv_vI6R8Zpw

Penulis: Rara Anisa/Tadris Matematika 2025——————————————————————————————————————————————

More information:

Instagram: @tadrismatuinmaliki_official

Website: tm.fitk.uin-malang.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait