MIU Login

Menembus Batas Benar dan Salah: Generasi Ulul Albab Tadris Matematika FTIK UIN Malang Hadirkan Inovasi Deteksi Miskonsepsi

Malang – Jawaban benar belum tentu menunjukkan bahwa seorang siswa benar-benar memahami matematika. Sebaliknya, jawaban yang salah juga tidak selalu berarti siswa tidak memiliki pemahaman. Di balik sebuah jawaban terdapat proses berpikir, alasan, serta tingkat keyakinan yang perlu dipahami secara lebih mendalam. Berangkat dari persoalan tersebut, Azza Nur Lailah (NIM 220108110056), mahasiswa Program Studi Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengembangkan sebuah instrumen diagnostik yang mampu memotret pemahaman konseptual siswa secara lebih komprehensif.

Melalui skripsi yang mengkaji terkait Pengembangan Four-Tier Diagnostic Test untuk Mengidentifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas X pada Materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel, Azza menghadirkan Four-Tier Diagnostic Test pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV). Karya tersebut dibimbing oleh Taufiq Satria Mukti, M.Pd. Instrumen ini dirancang tidak hanya untuk mengetahui apakah siswa mampu menjawab soal dengan benar, tetapi juga untuk mengungkap alasan di balik jawaban serta seberapa yakin siswa terhadap jawaban dan alasan yang diberikan. Selain itu, produk instrumen ini telah berhasil di HKI kan.

Membaca Lebih Dalam dari Sekadar Benar atau Salah

Selama ini, hasil tes matematika sering kali berhenti pada skor: jawaban benar memperoleh nilai, sedangkan jawaban salah dianggap sebagai kesalahan. Padahal, dalam pembelajaran matematika, dua siswa yang sama-sama memberikan jawaban salah dapat memiliki kondisi pemahaman yang sangat berbeda. Salah satunya mungkin benar-benar belum memahami konsep, sementara yang lain justru memiliki pemahaman yang keliru tetapi sangat yakin bahwa konsep yang dimilikinya benar.

Di sinilah kekuatan Four-Tier Diagnostic Test yang dikembangkan Azza. Instrumen tersebut dirancang dalam empat tingkatan yang saling terintegrasi, yaitu pilihan jawaban, tingkat keyakinan terhadap jawaban, pilihan alasan, dan tingkat keyakinan terhadap alasan. Kombinasi keempat komponen tersebut memungkinkan guru memperoleh informasi yang jauh lebih kaya mengenai cara siswa memahami suatu konsep matematika.

Dengan pendekatan tersebut, instrumen dapat membantu membedakan setidaknya tiga kondisi penting dalam pemahaman siswa, yakni paham konsep, tidak paham konsep, dan miskonsepsi. Perbedaan tersebut menjadi sangat penting karena strategi pembelajaran yang dibutuhkan untuk siswa yang belum memahami konsep tentu berbeda dengan siswa yang memiliki konsep keliru tetapi meyakininya sebagai sesuatu yang benar.

SPLTV sebagai Ruang untuk Membaca Cara Berpikir Siswa

Materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV) dipilih sebagai konteks pengembangan instrumen karena materi ini tidak hanya menuntut kemampuan prosedural, tetapi juga pemahaman terhadap hubungan antarkonsep, representasi, serta makna dari proses penyelesaian yang dilakukan siswa.

Melalui instrumen yang dikembangkan, respons siswa dapat dibaca secara lebih mendalam. Ketika siswa memilih suatu jawaban, guru tidak berhenti pada keputusan benar atau salah. Siswa juga diminta menunjukkan alasan yang mendasari pilihannya dan menyatakan tingkat keyakinannya terhadap jawaban maupun alasan tersebut.

Pendekatan ini membuka peluang bagi guru untuk memperoleh peta pemahaman konseptual siswa. Data yang dihasilkan dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi bagian-bagian konsep SPLTV yang telah dipahami, belum dipahami, atau justru dipahami secara keliru. Dengan demikian, hasil tes dapat dimanfaatkan sebagai pijakan untuk merancang pembelajaran remedial maupun strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran.

Dari Tes Menjadi Alat Membaca Proses Berpikir

Karya Azza memperlihatkan bahwa asesmen matematika dapat bergerak lebih jauh dari sekadar mengukur hasil akhir. Tes dapat menjadi instrumen untuk membaca proses berpikir dan struktur pemahaman siswa.

Inilah yang menjadikan penelitian tersebut relevan dengan kebutuhan pendidikan matematika saat ini. Guru tidak cukup mengetahui bahwa seorang siswa memperoleh jawaban benar atau salah. Guru perlu memahami mengapa siswa menjawab demikian, konsep apa yang digunakan, dan seberapa kuat keyakinan siswa terhadap pemahamannya. Informasi tersebut menjadi modal penting untuk menentukan intervensi pembelajaran yang tepat.

Pengembangan Four-Tier Diagnostic Test juga menunjukkan bagaimana penelitian mahasiswa dapat menghasilkan produk yang memiliki potensi untuk digunakan dalam praktik pembelajaran. Instrumen yang dikembangkan bukan hanya memenuhi kebutuhan akademik sebagai karya akhir, tetapi juga menawarkan pendekatan asesmen yang dapat membantu guru mengenali persoalan konseptual siswa secara lebih dini.

Meneguhkan Tradisi Riset Tadris Matematika UIN Malang

Karya Azza menjadi salah satu representasi dari arah pengembangan akademik Program Studi Tadris Matematika FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mendorong mahasiswa untuk menjadikan penelitian sebagai ruang untuk membaca persoalan pendidikan sekaligus menghadirkan solusi berbasis keilmuan.

Pengembangan instrumen diagnostik ini juga memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan matematika tidak selalu berbentuk media digital atau teknologi pembelajaran. Inovasi dapat hadir melalui cara yang lebih cerdas dalam membaca siswa. Ketika asesmen mampu mengungkap apa yang dipikirkan siswa di balik jawabannya, guru memiliki dasar yang lebih kuat untuk menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Semangat tersebut sejalan dengan karakter Generasi Ulul Albab yang dikembangkan Tadris Matematika UIN Malang: tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi memiliki ketajaman berpikir, kemampuan melakukan refleksi, dan kepedulian untuk menghadirkan solusi bagi persoalan pendidikan. Melalui riset, mahasiswa dilatih untuk melihat persoalan secara mendalam, mengolahnya menjadi pengetahuan, dan menerjemahkannya menjadi karya yang bermanfaat.

Dari jawaban menuju alasan, dari alasan menuju pemahaman, dan dari pemahaman menuju perbaikan pembelajaran, karya Azza Nur Lailah menunjukkan bahwa matematika tidak cukup hanya diukur dari benar dan salah. Di tangan generasi Ulul Albab, riset pendidikan matematika diarahkan untuk membaca cara berpikir, menemukan persoalan yang tersembunyi, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Inilah ikhtiar Tadris Matematika FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk melahirkan pendidik dan peneliti matematika yang tajam membaca masalah, kuat dalam keilmuan, dan nyata menghadirkan kemaslahatan.

(UM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait