{"id":603,"date":"2019-12-16T10:08:43","date_gmt":"2019-12-16T03:08:43","guid":{"rendered":"http:\/\/tm.fitk.uin-malang.ac.id\/?p=603"},"modified":"2019-12-16T10:08:43","modified_gmt":"2019-12-16T03:08:43","slug":"monolog-dalam-kereta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/2019\/12\/16\/monolog-dalam-kereta\/","title":{"rendered":"Monolog dalam Kereta"},"content":{"rendered":"<p>20.40 WIB saksi\nyang terbungkam dalam rintik hujan. Sepi yang merasai dibalik keramaian manusia\nyang lalu lalang hendak pulang dalam gelapnya malam dengan kereta yang akan\nmelaju kencang. Aku terduduk diantara sekat gerbong yang berguncang. Menatap\nlayar ponsel mati yang lama kupegang. Mataku terpejam.<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cAku ingin\nTuhan mengambil sebagian ingatanku lima bulan ini\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cMengapa?\nApakah ada sesuatu?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cBanyak. Aku\nhanya ingin kembali pada titik awal pijakan dan komitmenku. Mm\u2026Apakah aku seorang\nmanusia yang aneh?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cSecara\npsikologis, tidak ada yang dinamakan manusia aneh. Sedangkan secara filosofis,\nsemua manusia itu aneh. Jika kita tarik logis empirisnya, semua manusia itu\naneh sehingga tidak ada yang dianggap aneh. Cukup paham?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cPaham. Aku\nhanya bingung dengan mereka. Mereka itu rumit.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cRumit\nbagaimana?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cTerkadang\naku bingung harus berbuat apa. Diam memberikanku ketenangan meski pada akhirnya\ntak ada sebuah kenangan yang ditinggalkan. Sedangkan ketika aku mencoba\nmembangun kebahagiaan dengan bangkit dari diam, aku memberikan ribuan\nkekecewaan dan cela tak kunjung redam\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cMereka tidak\nrumit tapi kau yang membuat rumit. Apakah kau hidup untuk orang lain?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cTentu saja\ntidak.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Aku tersadar\nketika seorang pria paruh baya dengan memakai topi dan kacamatanya yang membuat\nia tampak seorang berwibawa menepuk pundakku. Ia menarik lenganku untuk duduk\ndi kursi kosong sebelahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidurlah, Nak.\nSaya tau kamu sangat kelelahan\u201d, kata pria paruh baya itu seraya memakai\nmasker.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTerima kasih\nbanyak, Pak. Anda sangat baik sekali\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAnaknya, Pak?\u201d,\ntanya seorang laki-laki yang duduk di bangku seberang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya, anakku\nyang kutemukan disana. Hehe\u201d, katanya sambil tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>***<\/p>\n\n\n\n<p>Aku kembali\nmemejamkan mata meski malam yang dingin disertai gerimis di luar jendela kereta\ntidak membuatku untuk terbenam dalam lautan impian. Kecamuk kegelisahan dan\ntetesan air mata mewarnai setiap perjalanan. Aku melanjutkan dialektika antara\naku dengan diriku. Bercakap dalam sendu\u2026<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cLalu, kenapa\nkau selalu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain kepadamu?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cAku hanya\ningin memperbaiki diri berdasarkan pandangan mereka\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cKenapa harus\nberdasarkan pandangan mereka? Lagipula, setauku 90 persen kau seorang apatis\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cTapi aku\njuga seorang altruis dan melankolis!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cLalu? Apakah\nseorang altruis dan melankolis mesti maju hanya dari pandangan orang?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cTidak\u2026 Aku\ntau, tapi aku ragu. Aku ragu dalam segala hal. Aku ragu untuk bicara, aku ragu\ndalam mengeluarkan pertanyaan, aku ragu dalam sebuah jawaban, aku ragu\nmelangkah dalam lika-liku kehidupan, dan aku ragu untuk maju ke depan.\nKeraguanku selama ini yang membuatku semakin jauh dari ambang yang aku\ntargetkan dan semakin jauh dari ketajaman intuisi yang kugunakan sebagai\npembenaran. Setelah aku mencoba menghapus keraguan itu dan aku mulai memberikan\nkepercayaan kepada seseorang, entah kenapa baru aku tau menyakitkannya\nkekecawaan. Aku kembali menjadi peragu karena aku terlalu percaya sehingga aku\nmerasakan bagaimana itu kecewa.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cDan kau sendiri\nyang merobohkan kepercayaan itu. Kurasa, kau tidak hanya seorang apatis,\naltruis dan melankolis. Namun kau juga seorang skeptis. \u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cMungkin\nseperti itu\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cKau pernah\ndengar hukum relativisme Protagoras dalam doktrin \u2018homo mensura-nya\u2019?\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cKurasa\nbelum\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cBahwa\nmanusia adalah ukuran bagi segalanya. Merupakan usaha untuk membatasi semua\npernyataan kepada orang yang membuatnya. Sebagaimana apa yang terasa enak bagi\nseseorang tidak tentu enak bagi yang lain. Demikian juga mengenai apa yang\nbenar bagi seseorang tidak tentu benar bagi yang lain. Keraguanmu itu merupakan\npenyangkalan diri dan secara harfiah telah terbukti sepenuhnya absurd.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cBenar\nsekali. Aku memang tidak dapat mencapai kebenaran objektif, yaitu pertimbanganku.\nTapi, mungkin dengan keraguan itu aku akan lebih berhati-hati.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Gerimis dan\ntangis di malam yang semakin pekat dalam kabut metastasis. Ini adalah kehidupan\nyang penuh alegoris. Intuisi yang merasai, afeksi yang menggerogoti, filantropi\nyang menyelimuti. Aku, bagai simalakama dalam dilemma yang tak mengerti dunia\nmanusia. <\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cSeorang skeptis pasti tau bahwa pertanyaan kritis tidak dapat diajukan secara konsisten dan realisme adalah suatu pengandaian pemikiran yang bersifat absolut. Mulai saat ini, lakukan apa yang kau anggap benar. Jika kau terus berada di lingkaran kediamanmu dan hanya akan bergerak jika ada orang yang menggerakkanmu, kau hanya akan jatuh. Cukup sampai disini kau ditindas. Hentikan kepolosan bodohmu selama ini! Ini adalah awal dari akhir! Kalau kau ingin maju, jangan kau tengok belakang. Tapi, hadapi apa yang ada di depan tanpa kau sia-siakan secuil pun kesempatan. Untuk kedua kalinya, kau akan kembali dilahirkan dengan tekad yang tak kunjung padam, dengan harapan tanpa keraguan, dengan penerimaan segala kekecewaan, dengan perubahan dan perbedaan. Kereta ini akan menjadi legenda dan saksi dari kelahiran seorang perintis jalan kemenangan yang akan kau torehkan.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Karya : Asfira Zakiatun Nisa&#8217;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>20.40 WIB saksi yang terbungkam dalam rintik hujan. Sepi yang merasai dibalik keramaian manusia yang lalu lalang hendak pulang dalam gelapnya malam dengan kereta yang akan melaju kencang. Aku terduduk diantara sekat gerbong yang berguncang. Menatap layar ponsel mati yang lama kupegang. Mataku terpejam. \u201cAku ingin Tuhan mengambil sebagian ingatanku lima bulan ini\u201d \u201cMengapa? Apakah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[50],"class_list":["post-603","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-karya-mahasiswa","tag-cerpen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/603","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=603"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/603\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=603"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=603"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=603"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}