MIU Login

Daftar Karya Mahasiswa

Pada tahun 2019, HMPS Tadris Matematika telah sukses menyelenggarakan kegiatan “Lentera Infinity”, sebuah program belajar mengajar yang bertujuan untuk memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak di Panti Asuhan Siti Hajar. Kegiatan ini mengusung tema “Pendidikan Karakter dan Kreativitas: Membangun Generasi Emas di Era Milenial”, yang sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan

Karya : Melati Indah Sari kepada jarak Ribuan kilo meter disana aku tak faham akankah langitmu sama? senja masih kau tatap dengan rasa embun kau balut dengan cinta pagi dan malam kau selimuti rasa suka duka ataukah langitmu kini berbeda? senja hanya bak kertas usang tak kau lihat bahkan terbuang

Malam yang mencekam,  seakan dunia telah berubah arah dari sebelumnya. Kini malam gelap yang  tak lagi terasa dingin, malam justru terasa begitu panas. Malam tidak lagi gelap dengan ditemani oleh sinar purnama yang dikelilingi beribu-ribu bintang, melainkan malam cukup terang bagaikan siang yang dipenuhi dengan cahaya kehangatan. Itulah duniaku, dunia

Ada kalimat yang tidak mampu Dijangkau ruang dan waktu. Ada pemikiran yang tidak dapat ditahan Karena paradigma kebebasan tanpa batasan. Jika akhir skenarionya banyak menelan korban, Dengan dalih kebenaran tidak untuk dibungkam. Konferensi, Bukan medan mematahkan segala argumentasi, Memudarkan justifikasi, Ataupun memburamkan segala eksistensi Masih saja dengan persepsi bahwa yang

20.40 WIB saksi yang terbungkam dalam rintik hujan. Sepi yang merasai dibalik keramaian manusia yang lalu lalang hendak pulang dalam gelapnya malam dengan kereta yang akan melaju kencang. Aku terduduk diantara sekat gerbong yang berguncang. Menatap layar ponsel mati yang lama kupegang. Mataku terpejam. “Aku ingin Tuhan mengambil sebagian ingatanku

Filantropi kini sudah tiada arti Begitu pula tak ada harganya setiap argumentasi Membunuh mati dalam tuntutan menjadi ajang kontestasi Bahkan menggadaikan keimanan bukan suatu hal langka lagi Lantaran hanya selalu mengutamakan istilah ‘Demi’ Hujah perjuangan yang selama ini kita suarakan Belum sempat membuahkan keberhasilan Banyak diantaranya yang memicu pertengkaran Demi

Kau, aku, dan narasi amerta Tentang cinta yang bernyawa, Cita-cita yang nyata. Tentang lika liku luka Hidup dan mati setelahnya Dalam muara petrikor semesta Kau, aku, dan narasi amerta Tak mampu ditafsirkan segala paradigma Tak dapat dita’rifkan bak kuantum fisika Di sela-sela lakuna yang tak terjamah logika Terukir kisah kita

Tertuang dalam celah yang hampir patah Angka menjejak diatas jumantara yang terbelah Doktrin yang berpilin dalam teorema yang mengejewantah Renjana, bersimpuh dalam syair mirat falsafah Inilah sebuah kisah dengan langkah yang menggema dalam ukiran sejarah Sejatinya, kita adalah kafilah yang berpacu menerpa logika dalam gelagah. Membuka kelima indra hingga terasa

Yang terpintal dalam segala ihtifal, Dalam dinding-dinding okultasi irasional, Bermuara dalam aliran akal, Semacam diferensial, Kaum feodal Kau Zenith dan aku Nadir, Kau bak batuan safir sedang aku hanya tiara berbungkus pasir Kita terpisah dalam lautan horizon yang berdesir Dengan hembusan ego yang kian menghilir Camkan! Aku tak akan berhenti