MIU Login

Ngobrol Pendidikan Islam: FITK UIN Malang Cetak Generasi Berdaya Saing di Era 5.0

Malang, Selasa (21/10/2025) – Program Studi Tadris Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Maling Ibrahim Malang sukses menggelar kegiatan “Ngobrol Pendidikan Islam” dalam dua sesi di waktu dan lokasi berbeda yang berlangsung pada Selasa (21/10/2025) di Probolinggo. Kegiatan ini menjadi wadah sinergi antara akademisi, praktiis pendidikan, dan pemangku kebijakan dalam memperkuat mutu serta arah pengembangan pendidikan Islam di era modern. Fokus pembahasan pada peningkatan budaya mutu akademik dan penguatan kolaborasi antar-lembaga pendidikan Islam.

Sesi pertama berlangsung pada pukul 07.00-12.00 WIB di Alino Cafe and Eatery, Kabupaten Probolinggo, dengan mengusung tema “Pembangunan Budaya Mutu dan Profesionalisme Akademik dalam Era Society 5.0.” Lokasi sesi ini berada di Alino Cafe and Eatery, Jl. Dr. Saleh No.18, Sumber Armi, Sumberlele, Kec. Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Penanggung jawab (PIC) sesi pagi ini adalah Siti Faridah, M.Pd, Nuril Huda, M.Pd, Sulistya Umie Ruhmana Sari, M.Si, Dr. Alam Aji Putera, M.Pd, M. Syamsul Arifin, M.Pd, dan Hendra Sugianto.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 200 peserta yang terdiri dari Pengurus Madrasah Diniyah (Madin), dosen, dan tenaga kependidikan dari FITK UIN Malang. Topik utama dalam kegiatan ini membahas pentingnya peningkatan budaya mutu di lingkungan akademik agar mampu beradaptasi dengan transformasi digital dan tuntutan profesionalisme di era 5.0.

Dalam sambutannya, Dr. Alam Aji Putera, M.Pd menekankan pentingnya penguatan budaya mutu di tengah tantangan era digital. Menurutnya, pendidikan Islam tidak lagi cukup berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga harus membentuk karakter adaptif, inovatif, dan berintegritas. Sementara itu, H, Syaiful Nuri, Anggota DPR RI Komisi VIII, menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam perlu memadukan spiritualitas, ilmu, dan teknologi agar mampu melahirkan generasi berdaya saing. Ia juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan teknologi dan media sosial secara bijak dalam mendukung misi pendidikan Islam. Sesi ini menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat profesionalisme akademik dan membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada mutu, nilai, dan kemajuan.

Dilanjutkan pada 12.00-17.00 WIB di RM Kebonpiring, Kabupaten Probolinggo, dengan tema “Kolaborasi Pesantren, Perguruan Tinggi, dan Legislatif dalam Pengembangan Keilmuan dan Pengabdian Masyarakat.” Lokasi sesi ini berada di RM. Kebonpring Tamansari no 10, Parsehan, Kec. Dringu, Kabupaten Probolinggo. Penanggung jawab (PIC) sesi siang ini adalah Siti Faridah, M.Pd, Nuril Huda, M.Pd, Sulistya Umie Ruhmana Sari, M.Si, Dr. Alam Aji Putera, M.Pd, M. Syamsul Arifin, M.Pd, dan Hendra Sugianto. Upaya memperkuat sinergi antara pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga legislatif menjadi sorotan utama dalam kegiatan “Sosialisasi Peningkatan Mutu Pendidikan Islam.” Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat jejaring kolaboratif dalam rangka membangun pendidikan Islam yang adaptif, relevan, dan berdaya saing di tengah tantangan zaman.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai unsur, mulai dari pengasuh pesantren, akademisi, hingga anggota legislatif yang memiliki perhatian terhadap penguatan mutu pendidikan Islam. Dalam sambutannya, panitia penyelenggara menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk membangun sistem pendidikan Islam yang utuh, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. “Peningkatan mutu pendidikan Islam tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi yang kuat agar pendidikan Islam mampu menjawab tantangan zaman,” ujar salah satu panitia dalam sambutannya.

Pesantren, sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman, dinilai memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan moral peserta didik. Sementara perguruan tinggi Islam berfungsi sebagai pusat inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, legislatif diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang mendukung kemajuan pendidikan serta kegiatan pengabdian masyarakat.

Melalui forum ini, peserta diajak berdiskusi mengenai langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi antarlembaga. Beberapa gagasan yang muncul antara lain pengembangan riset kolaboratif antara pesantren dan kampus, penyusunan kebijakan berbasis kearifan lokal, serta peningkatan peran pengabdian masyarakat yang fokus pada pemberdayaan umat.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat komunikasi dan kemitraan demi mewujudkan pendidikan Islam yang berkemajuan, moderat, dan relevan dengan kebutuhan zaman. FITK UIN Malang ini berharap, hasil dari kegiatan ini dapat menjadi dasar penyusunan langkah strategis bersama dalam meningkatkan mutu dan daya saing pendidikan Islam di Indonesia.

发表回复

您的邮箱地址不会被公开。 必填项已用 * 标注

Berita Terkait