{"id":607,"date":"2019-12-16T10:33:06","date_gmt":"2019-12-16T03:33:06","guid":{"rendered":"http:\/\/tm.fitk.uin-malang.ac.id\/?p=607"},"modified":"2019-12-16T10:33:06","modified_gmt":"2019-12-16T03:33:06","slug":"mesin-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/2019\/12\/16\/mesin-waktu\/","title":{"rendered":"Mesin Waktu"},"content":{"rendered":"<p>Malam yang mencekam,&nbsp;\nseakan dunia telah berubah arah dari sebelumnya. Kini\nmalam gelap yang&nbsp; tak lagi terasa dingin,\nmalam justru terasa begitu panas. Malam tidak lagi gelap dengan ditemani oleh sinar\npurnama yang dikelilingi beribu-ribu bintang, melainkan malam cukup terang\nbagaikan siang yang dipenuhi dengan cahaya kehangatan. Itulah duniaku, dunia yang kini kau berada di sana.\nDunia yang memunculkan sisi berbeda dari masa sebelumnya. Dunia modern yang\nsangat kau bangga-banggakan.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Canggih.\nMungkin untuk saat ini dan nanti, kata tersebut adalah kata yang paling\nsesuai dengan kondisi kehidupan yang kita jalani saat ini. Ya, kita berada di generasi yang\ndengan berjuta-juta teknologi. Kami mengatakan bahwa diri\nkami adalah generasi milenial. Generasi&nbsp;\nyang kaya pengetahuan akan semua kecanggihan sebuah teknologi. <\/p>\n\n\n\n<p>Remang-remang\nmataku mulai terbuka. Aku mulai menatap semua yang ada disekelilingku. Begitu\nsejuk nan indah. Rindang dengan penuh pepohonan , udara yang terasa yang\nmenyejukkan badan, semilir angin malam yang masih mampu membelai lembut kulitku\nhingga menyusup masuk bagai pencuri ke dalam pori-pori. <\/p>\n\n\n\n<p>Aku adalah seorang wanita paruh baya dengan\nrambut panjang terurai yang melambai-lambai dan terombang-ambing dipermainkan\noleh siliran angina malam. Mataku sayu, dengan tubuh kurus dan tinggi yang\nsesuai dan proposional. Aku sedikit menggigil merasakan dingin yang\nmenggetarkan kaki dan tanganku. Aku menarik kedua tanganku ke depan dan mulai\nterduduk dari tidurku.&nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kini aku mulai\nsepenuhnya tersadar dari tidurku, aku mulai membuka mataku. Mengumpulkan\nsemangat dalam diriku agar aku terbangun dan memulai perjalanan baru menyusuri\nlika-liku dunia yang penuh dengan misteri. Butuh energi yang kuat dalam bagiku untuk\nmemahami dunia yang tak kumengerti. <\/p>\n\n\n\n<p>Aku tak mengingat\napapun, yang aku ingat hanyalah ketika terakhir kali aku berada di depan sebuah\nmesin besar yang sangat luas. Kemudian aku mulai menekan salah satu tombol terbesar berwarna\nmerah dari puluhan tombol yang disediakan, aku menekannya dengan\npenuh keyakinan dan kesadaran. Kemudian entah apa yang terjadi,\naku tak mengingat apapun. Saat ini, aku berada di sebuah tempat&nbsp; asing yang tak aku ketahui dimana kah\nsebenarnya diriku. Memang ada banyak orang di sekitarku, tapi aku tak\nmengenalnya sama sekali, mereka sangat asing. Bahkan dimana aku? Tempat manakah\nini? Pertanyaan ini\nseakan menggoyahkan hatiku untuk lebih. Aku ingin menelusurimu lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Lagi-lagi, banyak orang yang ada disini, mereka\nberpenampilan sederhana sama sepertiku. Mereka duduk beramai-ramai dibawah\npohon beringin rindang yang ditemani sebuah obor kecil diatasnya. Terasa sangat\nseru dan menyenangkan, namun aku tak tertarik pada mereka. Meski terlihat\nramah. Aku lebih tertarik mengelingingi alam yang rindang dan sangat\nmenakjubkan. <\/p>\n\n\n\n<p>Hingga aku mulai\nberdiri di atas dua kakiku. Kupandadangi dengan mata telanjang apa yang ada\ndisekelilingku, sungguh menentramkan jiwaku. Mungkin kalian akan merasakan hal yang\nindah, jika kalian juga berada disini bersamaku. Bahkan ribuan kata indah takkan\nmampu mendefinisikan betapa indahnya dunia saat ini di depan mata kalian. Bibir\nkalian akan selalu menebarkan sebuah senyum meski tak bercanda dengan siapapun.\nMata kalian akan terpejam sejenak sembari merasakan aliran udara yang merambat pelan\nmelewati aliran darah dalam tubuh kerimping kalian. tak kan bosan kelima indera\nini menikmati indahnya udara disekeliling kalian yang\nmenebarkan aroma kelembutan alam yang indah. Mata kalian akan tetap bisa\nmerasakan indahnya dunia walau terpejam sekalipun. <\/p>\n\n\n\n<p>Akupun mulai\nberjalan mengelilingi rerimbunan pepohonan seorang diri. Kemudian mataku terpaku pada sebuah\ngerbang yang besar dan menjulang tinggi. Aku menengadahkan kepalaku menatap\nujung pintu yang seakan hendak menyentuh langit.&nbsp; Bagaikan akan menyibak awan menembus langit tak terbatas.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWaw\u201d. Itulah\nsatu-satunya kata yang keluar dari mulutku ketika aku terkesima memandangi\npintu besi&nbsp; nan gagah yang ada\ndihadapanku. Aku berada sekitar jarak 3 meter dari gerbang yang rapat tertutup.\nKetika kaki ini mulai melangkah satu dengan kaki kananku, terdengar sebuah gerakan yang\nmembuatku terkejut. Suara yang berasal dari gerbang besi berwarna gelap itu. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGrek&#8230;..grek&#8230;&#8230;..grek&#8230;&#8230;&#8230;..\u201d. Belahan dari\npintu gerbang mulai terbuka. Aku mengerutkan kedua dahiku. Bagaimana hal itu terjadi?\nTak ada seorangpun yang berdiri di sekitar pintu , hanya ada aku\nseorang. Aku yang masih\nberu pertama kali melihatnya. Tak mungkin aku dapat\nmendorongnya bahkan menyentuhnya saja jemari kecilku ini tak kan sampai. Sekali lagi dengan berani\naku melangkah dengan kaki kiriku. &nbsp;Dan benar saja,\npintu tersebut muali terbuka lagi lebih lebar disertai suara berisik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHalooo&#8230;&#8230;&#8230;.\u201d. Suaraku\nterdengar lemah memanggil entah siapa. Hanya ingin lebih tahu apakah ada orang\nmendengarku. Adakah orang di balik gerbang pemisah tersebut. Bagiku mustahil jika sebuah pintu\ngagah nan besar dapat dibuka hanya dengan satu orang saja. Namun semua tetap\nsaja sunyi membisu,&nbsp; tak ku dengar suara apapun dari\nbalik pintu tersebut.\nHanya suara jangkrik yang memecah keheningan malam. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPermisi, adakah\nseseorang di dalam?\u201d. Tetap saja tak ada jawaban yang menjawab rasa penasaranku. Kemudian aku\nterus melangkah dengan terpaku pada satu titik. Gerbang besi ditengah-tengah hutan. Semakin aku mendekat semakin gerbang terbuka dengan lebarnya.\nKetika aku berada sejajar menyamai letak gerbang tersebut, tak ada seorang\npun yang kutemukan di balik pintu. <\/p>\n\n\n\n<p>Aku pun menatap\nkedepan. Sungguh mataku kini terbelalak lebar-lebar. Tubuhku menjadi kaku. Aku\nmulai berusaha memahami apa yang ada sekitarku. Penasaranku kini berada pada\ntitik teratas. Tanganku\nyang semula merasa kedinginan, kini mulai mencair, bingung kemarut menyelimuti\npikiranku. Aku merasakan atmosfer lain di tempat yang ditutupi sebuah gerbang\nmewah dan megah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tempat ini sungguh\nberbeda, jika di tempat sebelumnya, aku menatap gelapnya malam dengan ribuan\nbintang yang menyebar menawarkan cinta pada sang rembulan, gelap namun indah,\ndisini sungguh berbeda. Jika sebelumnya kutemui api kecil diatas obor\nyang menyala lemah sebagai penunjuk arah dan pencahayaan yang terikat kuat\ndibatang pohon besar\ndengan sebuah tali jerami rapuh. Yang dibawahnya\nmenadi tempat naungan rerumputan hijau ketika malam telah datang, disini tidak. Jika\nsebelumnya dinginnya angin malam adalah selimut yang membelai tubuhku dengan penuh\nkealamian dan mengibarkan\nrambut panjangku, disini tidak. <\/p>\n\n\n\n<p>Dunia terasa sangat\nberbeda disini, inilah sisi lain dunia, bagai dua mata pisau yang berbeda arah.\nCukup lama aku berdiri disini. Tak bosan aku menatap sekitar. Heran, lagi-lagi\nheran. Tak kutemukan pohon disini, udara begitu sangat panas dan tidak\nmenyejukkan tubuhku. Tak ada udara dingin. Tak ada api kecil sebagai penghangatnnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menengadahkan\nkepalaku keatas menatap diantara dua buah bangunan yang menjulang tinggi\nkelangit biru. Walaupun malam, bukan bintang yang aku temukan disini. Bahkan\nbulan pun bagai kan hilang cahayanya. Hingga malam terasa bagaikan siang karena terangnya. Bukan lagi obor yang terikat pada batang pohon sebagai penerang,\nmelainkan lampu-lampu elektronik yang terpaku disepanjang jalan dengan penuh\nwarna-warni pelangi yang memanjakan mata . Namun suatu kesedihan kini\nmulai menyelimutiku, tak ada lagi pohon besar yang tertanam disini. Tak ada kata hijau untuk\nmenggambarkan tempat seluas ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Kulihat dari arah\nkananku, sebuah pabrik mewah menyemburkan gumpalan awan hitam dari sebuah\ncerobong asap kuno yang panas ke atas langit biru seakan hendak menjadikannya\nkelabu. Sungguh aku sangat benci melihatnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Aku berjalan\ndiantara dua gedung mewah nan indah dan menantang langit. Aku terpesona pada\ndinding gedung&nbsp; tersebut. Setiap mata\nmampu menembus dinding memata-matai apa yang terjadi dalam gedung hanya dengan\npandangan mata. Aku menatap dindingnya yang bersih dan terbuat dari kaca.\nIndah. Aku ingin berada di dalam sana. Mereka juga mampu melihat kami, para pejalan\nkaki trotoar yang sedang memperhatikannya. Mereka menikmati kopi pahit dan\nsaling bercengkerama bersama sambil menatap dunia luar yang begitu luas. Kehidupan\ngenerasi milenial. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah robot kecil memanjat dinding teratas di\nluar kaca. Robot-robot yang menggantikan manusia sebagai pembersih kaca. Dengan\ntangan berkabelnya, ia menjalar ke sudut-sudut dinding kaca. Tanpa kepala,\ntanpa mata, tapi mereka, para robot milenial adalah pembersih gedung kaca\nhingga menjadi mengkilap seperti sekarang ini. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak banyak orang\nyang berlalu lalang , hanya beberapa kaki yang dapat kuhitung sedang berjalan\ndiatas trotoar. Terlalu banyak kendaraan roda empat dengan body mengkilap\nhingga menyilaukan mata. Memenuhi jalan hampir tanpa sekat. Jalanan yang macet\ndan berasap hitam kendaraan yang berbau tak sedap. Mungkin adalah\nhal biasa bagi keadaan sekitar, tapi indra penciumanku hendak memberontak dengan keadaan itu namun tak\nbisa.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Tiba-tiba sebuah\nmobil mewah berhenti di hadapanku. Aku terdiam sejenak. Kupandangi mobil yang\nmewah dengan kaca gelap\nnan elegan. Inilah zaman teknologi yang berkembang dengan\nbegitu pesat dari ilmu pengetahuan. Tak lama, padamlah cahaya lampu dari mobil\nsilver disertai dengan terpakunya keempat roda hitamnya pada aspal jalanan yang terdiam. Tidak ada lagi suara mesin yang mendengung. Pintu mobil terbuka keatas\nbagaikan tirai yang disibakkan. Sungguh indah. Aku, sebagai orang yang\npertama kali melihatnya berdecak kagum dan tersenyum, meskipun\norang-orang hanya acuh tak acuh terhadap hal tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Keluarlah sepatu\nhitam dengan\nkilauannya, kemudian disusul dengan tubuh yang\natletis dan gagah dibalut dengan jas biru tua yang sangat cocok dikenakan pria\nseparuh baya tersebut. Dilihat dari panampilannya, ia bukanlah orang dari\nkalangan rakyat biasa, melainkan dari kalangan atas yang namanya terkenal\nhingga kepelosok negeri. Aku melihatnya berjalan dengan gagah menuju ke gedung\nyang membuatku terpesona sebelumnya. Tampan dan rapi, \u2018mungkin dia adalah\npemilik perusahaan yang mewah,\u2019 batinku. Entah sombong atau gagah, tapi cara\nberjalan seperti itu memanglah hanya ada di kalangan orang-orang ternama.&nbsp; Semua orang begitu menghormatinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Aku masih berlanjut\nmenyusuri keramaian jalan kota. Kota yang sangat berisik, namun aku merasa\nsangat kesepian. Aku belum merasa begitu kelelahan hingga aku terus melangkah\nmenyusuri pinggiran kota. Semua orang terlihat menunduk ketika mereka berjalan,\ndengan sebuah benda yang disebut dengan gadget digenggamannya. Seakan mereka\ntelah hafal benar dengan seluk beluk jalan yang mereka lalui, hingga mereka berjalan tanpa\nmemperhatikan apa yang mereka lalui. Mereka hanya terfokus pada sebuah benda\nyang pas digenggaman mereka. Hatiku sangat miris melihat\nhal tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Sambil\nmenggelengkan kepala, aku berjalan dan melihat sebuah mesin kotak yang\nbanyak terdapat makanan dan minuman. Seketika, aku menjadi merasa kehausan dan ingin\nmeneguk sebuah minuman dingin yang segar. Aku pun mulai mendekatinya dan\nbertanya-tanya dalam hati bagaimana aku bisa mendapatkan&nbsp; sebuah minuman dari dalam. Sedangkan tak ada gagang pintu untuk\naku membukanya. Aku masih memandanginya dengan diam. Tiba-tiba sebuah sepatu\nterdengar mendekat kearahku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKamu mau yang\nsoda kah?\u201d. Seseorang tiba-tiba menghampiriku dan bertanya menawarkan\nsesuatu sambil menunjuk pada sebuah botol minuman dibalik kaca lemari es. Aku\ntercengang dan menatap\nwajah pria tersebut, lagi-lagi ia mengenakan jas, tampak keren.\nNamun ia adalah orang berbeda dengan pria yang keluar dari mobil mewah di depan\ngedung. Kemudian aku hanya mengangguk mengiyakan\nperkataannya tanpa berpikir panjang. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOkee. Tunggu\nsebentar ya\u201d. Katanya sambil merogoh saku celana lalu mengeluarkan sebuah dua koin emas yang\ndimasukkkan satu\npersatu pada salah satu sisi mesin tersebut kemudian\nkeluarlah dua minuman yang sama di bawah kotak mesin tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni, ambil saja\u201d. Ia tersenyum\nsambil menyodorkan salah satu botol minumannya yang baru saja diambilnya dari\nmesin tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTerimakasih\u201d. Aku berkata\nsambil malu-malu. Aku pun terdiam dan menerimanya. Kupeganginya minuman\ntersebut, telapak\ntanganku kembali terasa sangat dingin dan membuatku ingin\nsegera meminumnya\nmembayangkan betapa segarnya minuman di genggamanku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh ya, kamu\nsiapa?. Perkenalkan namaku Arga, aku bekerja di perusahaan di gedung deket sini\u201d. Tanyanya\nsambil menunujukkan padaku dengan jari telunjuknya sebuah gedung besar yang\naku temui sebelumnya.\nAku pun menatap kearah jari tersebut diarahkan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku Dara. Salam\nkenal juga\u201d. Aku menjawab pertanyaannya dengan nada lembut dan menyembunyikan sebuah\nnada malu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHmm kamu dari\nmana? Kamu bekerja di sekitar sini juga kah? Penampilanmu sangat berbeda, terlihat sederhana,\nsepertinya kamu orang baru di sini\u201d&nbsp;\nTanyanya seakan ia mulai penasaran denganku. Ia mulai mencurigaiku. Aku\nmemang berpakaiann sangat sederhana, tidak seperti apa yang dikenakan di\nsekitarku. Mereka mengenakan pakaian ber-merk dan sangat mewah nan\nelegan. Sedangkan aku hanya berpakaian seadanya..<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku tidak tahu.\nAku hanya penasaran dengan keadaan di sekitar sini. Mengapa tempat ini begitu\nberbeda dengan tempat di sekitarku. Aku sangat penasaran, bahkan aku pun lupa\nbagaimana aku bisa berada di sini\u201d. Aku sedikit merasa sedikit kebingungan ketika ia\nmenanyakan asal tempat tinggalku, di tempatku, aku tidak pernah\nmenjumpai gedung bertingkat sepertii tadi, yang aku tahu di tempatku hanya ada lahan luas yang selalu dipenuhi oleh pepohonan yang indah dan rindang yang menyejukkan\nsetiap mata yang memandangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cOh ya Dara,\nbaiklah, apa yang membuatmu penasaran, aku ada sedikit waktu disini, mungkin\naku bisa sedikit membantumu. Lagi pula aku sudah sangat akrab dengan alam dan\nkeadaan yang ada di sini. Tadinya aku ingin pergi keluar mencari udara segar, karena merasa\nstress didalam kantor yang membosankan. Dan yahh, aku berpikir bagaimana aku bisa\nberjalan-jalan.\u201d Ia mulai membuka pembicaraan seakan-akan sudah sangat akrab\ndenganku. Aku pun mulai menceritakan apa yang aku alami dari awal dan bisa\nsampai sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTempat ini sangat\nasing bagiku, begitu panas meski malam hari, dan berbeda jauh dengan tempat\ntinggalku sebelumnya. Bangunan ini begitu megah dan mewah. Sungguh menakjubkan,\nsemua adalah hal baru bagai berada di generasi yang lain\u201d. Aku sudah\nmulai bisa terbuka pemikiran dengannya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAku rasa kamu\ndatang dari dimensi lain , kamu telah melewati mesin waktu dari masa lampau\nmenuju masa sekarang, mungkin pada masa kamu, gedung dan bangunan yang\nmenjulang tinggi yang gagah ini belum ada. Semua saat ini telah canggih berkat\nkemajuan teknologi dan ilmu sains. Ini semua mulai dibangun pada masa milenial\u201d. Arga begitu\nteliti dan mulai membuka pemikiranku hingga sebagian pertanyaanku yang selama ini aku simpan mulai terjawab. Aku\nhanya mendengarkannya berbicara dan memahaminya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPada masa ini,\nsemua serba robot Dara, bahkan sumber daya manusia hampir punah dan mulai tidak\ndiperhatikan lagi, semua telah digantikan oleh mesin dan robot yang membantu\nmeringankan tenaga manusia. Namun mereka lebih dari itu, mereka telah menghapuskan\ntenaga kerja manusia, makanya pada zaman sekarang mulai banyak pengangguran,\nmanusia hanya mementingkan gadget Dara, mereka berjalan namun tidak melihat\njalan, mereka melihat gadget. Mereka berbicara bukan dengan mulut Dara,\nmelainkan dengan bahasa tulisan yang ada didalam aplikasi sebuah gadget\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDara, mungkin\nsemua ada dampak baik dan dampak buruknya, namun ketika mereka berbicara dengan\nlawan bicara,mereka lebih tertarik untuk memerhatikan gadgetnya daripada lawan\nbicaranya. Aku semakin bosan dengan kehidupan di kantor yang seperti itu,\nmereka berbicara denganku namun tak menatapku, mereka seakan berbicara lewat\ngadget.\u201d Arga berhenti sejenak sambil menghembuskan nafas dalam-dalam seakan membuktikan rasa\nkekesalannya pada kehidupannya yang tentu ada baik dan buruknya. Aku masih\nbertanya-tanya padanya dan kami memutuskan untuk berbicara sambil duduk di\nsebuah bangku kecil\nterbuat dari kayu dibawah lampu jalanan yang remang-remang\ncahayanya, namun sangat indah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cArga bagaimana di\nsini begitu panas, mengapa aku tak dapat menjumpai pepohonan yang sangat\nrindang dan cukup luas di sini, semua telah dipenuhi oleh bangunan\nberpuluh-puluh lantai yang menjulang tinggi ke atas hampir menabrak langit?\u201d\naku bertanya pada Arga bagaimana bisa hutan tak kutemukan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKemarilah Dara,\nikutlah denganku\u201d. Arga bangun dari duduknya dan menarik lenganku entah akan menuju kemana\nia membawaku. Aku terperanjat dan hanya mengikuti langkahnya dari belakang. Ia masih\nmenggenggam tanganku. Diajaknya aku menyusuri jalan yang jauh dari tempat ku\nduduk bersamanya. <\/p>\n\n\n\n<p>Hingga aku terdiam\nmelihat semua pemandangan ini. Ia melepaskan genggaman tangannya dan menatapku\nagar ia bisa melihat bagaimana ekspresi wajahku. Tentu saja aku sangat\nterkejut, air mata ku kini, setetes demi setetes mulai turun membasahi pipiku.\nAku mengusap air mata yang keluar membasahi pipiku dan menatap Arga yang juga menatapku.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahukah kalian apa\nyang aku lihat di sini? Sebuah pemandangan yang menyesakkan mata. Asap hitam\nmenggumpal dimana-mana. Mentup jarak pandang kita semua. Lebih panas dari tempat\nsebelumnya. Kabut hitam beterbangan menutup semua kawasan di wilayah ini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDara, ini adalah\nhutan kami yang dahulu yang sangat rindang dan segar. Mereka telah membakar\nhutan kesayangan kami. Bukan manusia yang tak berpendidikan yang membakarnya,\njustru manusia dengan jas\nberdasilah yang telah melakukan semua ini, mereka sangat\ngagah di dalam dengan mengenakan jas hitam dan bersepatu mengkilap, mengendarai\nsebuah mobil mewah berjuta-juta harganya. Mereka telah merampas hak kami,\ndemi&nbsp; apa Dara? Kau tahu? Demi sebuah\nbangunan bertingkat dari kaca yang indah dan canggih tadi katanya.\u201d Ia mulai\nmelampiaskan kekesalannya. Air mataku masih saja jatuh setelah mendengar\nkata-katanya. Bahkan terasa lebih miris ketika manusia berdasilah yang\nmemerintahkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKau lihat Dara,\nsemua makhluk dan hutan ini kini telah hampir semuanya meninggal disini,\nbersama lenyapnya pepohonan mereka juga akan ikut memunah dan musnah. Mereka\nmenghembuskan nafas mereka disini.\u201d Kekesalannya Arga terlihat mulai meninggi. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cArga, ibu itu, dan\nanak-anaknya\u201d aku menunjuk pada seorang ibu dan seorang anak yang berusia\nsekitar 8 tahun, ia menangis dan mereka dibantu dengan oksigen, alat bantu pernafasan, agar mereka\ntetap sehat. Aku mulai menangis, dan membayangkan bagaiamana dunia saat ini,\nkemajuan yang baik justru menimbulkan masalah yang serius bagi masyarakat yang\nada di daerah sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIya, mereka\nterkena asma Dara, bahkan\nlebih parah. Itu akibat kebakaran hutan&nbsp; yang ada disini. Itulah salah satu dampaknya\ndan yang sekarang terjadi masa kini Dara.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Belum selesai Arga\nmenjelaskan semuanya tibalah sebuah benda yang sama di sampingku. Benda yang\nentah dari mana asalnya, namun benda itu ada ketika aku menghadap ke samping kanan. Aku\nterkejut. Benda itu adalah benda yang sama persis dengan\nbenda yang aku tekan-tekan ketika aku hendak memasuki arena ini, sebelum aku lupa dimana aku\nsekarang. Aku menatap kebelakang dan melihat Arga. Arga menatapku dan\nmelambaikan tangannya. Aku menjadi mengerti dengan semua ini, aku berada di\ndepan mesin waktu yang akan membawaku ke masa lalu yang masih belum banyak\nteknologi, dunia yang masih segar alami yang masih banyak ditumbuhi dengan\npepohonan yang rindang. Duniaku\nyang sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku melambaikan\ntangan pada Arga juga, sebagai\ntanda perpisahan bahwa waktuku untuk menjelajahi masa\ndepan telah berakhir, meski masih banyak pertanyaan yang ingin aku ketahui\ndarinya, namun hal itu harus sekali lagi aku urungkan, atau aku takkan pernah\nkembali ke masa sebelumnya.&nbsp; Kami\ntersenyum sebentar, saling mengucapkan kata terimakasih dalam hati atas\npertemuan singkat yang sangat membuatku haru dan kagum seperti saat\nini. Terimakasih kawan, telah menyempatkan waktumu membantu ku memahami masa\nmilenialmu, masa penuh dengan gadget dalam otak dan pikiran manusia, masa dimana manusia tak lagi\ndiperlukan dalam tenaag kerjanya karena telah tergusur oleh robot-robot\nmilenial, masa perkembangan sains dan teknologi berkembang\npesat dan mempengaruhi keadaan alam sekitar. <\/p>\n\n\n\n<p>Aku kembali menatap\nmesin besar dihadapanku. Aku meletakkan jari telunjuk tanganku di atas tombol\nmerah. Aku memejamkan mataku dan menekannya kuat-kuat. Aku menghilang\nmeninggalkan Arga sendirian yang di sana ia melihatku menghilang terbawa oleh\nmesin waktu. Sampai&nbsp; jumpa kawan. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika aku tersadar aku sudah dikelillingi di sekitar pepohonan rimbun. Banyak orang yang masih memetik teh dan bercengkrama sambal tertawa ria. Tidak ada gedung pencakar langit. Hanya rumah sederhana yang penuh kenyamanan dan kesejukan alam.<\/p>\n\n\n\n<p>Karya : Iffa Abdillah Kinasih<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malam yang mencekam,&nbsp; seakan dunia telah berubah arah dari sebelumnya. Kini malam gelap yang&nbsp; tak lagi terasa dingin, malam justru terasa begitu panas. Malam tidak lagi gelap dengan ditemani oleh sinar purnama yang dikelilingi beribu-ribu bintang, melainkan malam cukup terang bagaikan siang yang dipenuhi dengan cahaya kehangatan. Itulah duniaku, dunia yang kini kau berada di [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[50],"class_list":["post-607","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-karya-mahasiswa","tag-cerpen"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/607","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=607"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/607\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/tm.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}