MIU Login

Seminar Nasional KOMIK 2023: Mengupas Peran dan Tantangan Pemuda di Era Influencer Culture

Pada tanggal 12 November 2023, HMPS Tadris Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar Seminar Nasional KOMIK 2023 dengan tema “Peran dan Tantangan Pemuda di Era Influencer Culture.” Acara ini diadakan di Aula Rektorat Lantai 5 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan tujuan memberikan wawasan baru bagi mahasiswa dan masyarakat umum mengenai bagaimana generasi muda menghadapi tantangan di era di mana influencer memainkan peran signifikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan Pemuda di Era Digital Dalam seminar ini, pembicara utama, Rian Fahardi dan Gus Romzi Ahmad, menjelaskan bagaimana perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah paradigma generasi muda. Era influencer culture mengajarkan bahwa popularitas di dunia maya dapat membawa pengaruh besar, baik positif maupun negatif. Pemuda dihadapkan pada pilihan antara menjadi konsumen pasif atau berperan aktif dalam membentuk tren, nilai, dan norma yang beredar di masyarakat.

Keduanya memaparkan bahwa dalam dunia yang semakin dipengaruhi oleh para influencer, pemuda dituntut untuk lebih kritis dan bijak dalam mengonsumsi konten. Pengaruh yang diberikan oleh para influencer tidak jarang memengaruhi pola pikir, gaya hidup, hingga keputusan-keputusan penting dalam kehidupan mereka.

Peran Pemuda sebagai Agen Perubahan Selain menghadapi tantangan tersebut, pemuda juga memiliki peluang besar untuk menjadi agen perubahan. Dalam seminar ini, Rian Fahardi menggarisbawahi pentingnya menggunakan platform digital dan media sosial secara positif untuk mendorong kesadaran akan isu-isu penting seperti pendidikan, lingkungan, dan hak asasi manusia. Generasi muda, dengan kreativitas dan semangatnya, dapat memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Gus Romzi Ahmad juga menambahkan bahwa pemuda tidak boleh hanya menjadi pengikut tren, tetapi harus berani menjadi penggerak perubahan dengan memanfaatkan potensi yang mereka miliki. Pemuda perlu membangun identitas yang kuat, tidak hanya berdasarkan popularitas di media sosial, tetapi juga melalui kontribusi nyata di masyarakat.

Menghadapi Tantangan Moral di Era Influencer Salah satu isu yang menarik perhatian dalam seminar ini adalah tantangan moral yang dihadapi pemuda di era influencer culture. Rian Fahardi mengingatkan bahwa di balik popularitas yang ditawarkan oleh dunia digital, pemuda juga berhadapan dengan risiko kehilangan jati diri dan nilai-nilai moral. Tren yang muncul di media sosial sering kali tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan dalam masyarakat.

Gus Romzi Ahmad menekankan pentingnya pendidikan moral dan agama sebagai landasan bagi pemuda dalam menghadapi dunia digital. Dengan nilai-nilai yang kuat, pemuda akan lebih mampu menyaring informasi dan tren yang masuk, sehingga dapat menjaga integritas diri dalam menjalani kehidupan di era modern.

Mengoptimalkan Potensi Diri di Era Influencer Sesi lain dalam seminar ini juga membahas bagaimana pemuda dapat mengoptimalkan potensi diri di era influencer culture. Pemanfaatan media sosial bukan hanya sebagai tempat berbagi cerita, tetapi juga sebagai alat untuk memperluas jaringan, mengembangkan keterampilan, dan membangun karir. Para pembicara memberikan tips tentang bagaimana pemuda bisa mengelola identitas digital mereka dengan baik, serta memanfaatkan peluang yang ada untuk belajar dan berkontribusi secara lebih luas.

Dalam konteks ini, seminar juga mengajak peserta untuk lebih aktif dalam berkarya dan menggunakan platform digital untuk hal-hal yang produktif. Ini termasuk membangun usaha, berpartisipasi dalam kampanye sosial, atau bahkan mengedukasi orang lain tentang isu-isu penting yang sering kali diabaikan oleh masyarakat.

Diskusi Interaktif dengan Peserta Selain paparan dari pembicara, seminar ini juga menghadirkan sesi diskusi interaktif, di mana peserta seminar diberi kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan pandangan mereka mengenai topik yang dibahas. Diskusi ini menjadi ajang yang sangat dinamis, di mana peserta berbagi pengalaman mereka mengenai bagaimana influencer culture mempengaruhi kehidupan sehari-hari, baik dalam hal gaya hidup, pendidikan, maupun interaksi sosial.

Beberapa peserta menyoroti bagaimana media sosial terkadang menciptakan tekanan tersendiri bagi pemuda untuk “selalu tampil sempurna” di depan publik, yang akhirnya berdampak pada kesehatan mental. Dalam menanggapi hal ini, Rian Fahardi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia digital, serta tidak terlalu terpengaruh oleh apa yang terlihat di media sosial.

Kesimpulan dan Penutup Seminar Nasional KOMIK 2023 berhasil memberikan wawasan yang mendalam mengenai peran dan tantangan pemuda di era influencer culture. Dengan menghadirkan pembicara yang berpengalaman dan diskusi yang interaktif, seminar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pemuda untuk lebih bijak dalam menghadapi tantangan di era digital. Pemuda didorong untuk menjadi individu yang kreatif, kritis, dan tetap memegang nilai-nilai positif dalam menjalani kehidupan di era modern yang serba cepat dan terkoneksi. Acara ini juga menjadi pengingat bahwa pemuda memiliki peran besar dalam membentuk masa depan, dan di era yang penuh dengan pengaruh digital, mereka harus mampu menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi diri mereka sendiri dan masyarakat luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkait