PROBOLINGGO, 8 Oktober 2025 – Upaya serius dan menyeluruh untuk mengangkat mutu pendidikan Islam di Indonesia digaungkan melalui acara perdana Ngopi: Ngobrol Pendidikan Islam di Pondok Pesantren Anwarus Sholihin, Besuk, Probolinggo. Kegiatan kolaboratif antara Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan Komisi VIII DPR RI ini mengusung tema krusial: “Peningkatan Mutu Pendidikan Islam: Membangun Daya Saing Pendidikan Islam Berbasis Karakter”. Lebih dari 200 peserta dari kalangan guru dan masyarakat menghadiri forum strategis ini.

Gambar 1. Ketua Program Studi Tadris Matematika bersama dengan Dekan FITK, Anggota DPR RI Komisi VIII dan Pimpinan Pondok Pesantren
Acara ini menegaskan sinergi kuat antara legislatif, akademisi, dan pesantren dalam memperkuat fondasi pendidikan Islam. Dari pihak akademisi UIN Malang, hadir pula jajaran dosen dari Program Studi Tadris Matematika FITK, yaitu Ulfa Masamah, M.Pd., (Ketua Program Studi Tadris Matematika), Dimas Femy Sasongko, M.Pd (Sekretaris Program Studi Tadris Matematika), dan Ibrahim Sani Ali Manggala, M.Pd (Dosen Tadris Matematika, Unit Penjaminan Mutu FITK).
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan dosen TMT UIN Malang juga turut mensosialisasikan program studi unggulan di FITK. Salah satunya adalah Program Studi Tadris Matematika, yang tidak hanya bertujuan mencetak guru-guru matematika, tetapi juga menghasilkan lulusan yang berkarakter Ulul Albab. Karakter Ulul Albab di UIN Malang dibentuk oleh empat pilar utama: keluhuran akhlak, kedalaman spiritual, keluasan ilmu, dan kematangan profesional. Keempat pilar ini merupakan visi universitas untuk mencetak generasi yang memiliki kedalaman spiritual, keagungan akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional.

Gambar 2. Ketua Program Studi Tadris Matematika Ulfa Masamah, M.Pd memberikan sosialisasi terkait Program Studi Unggulan FITK UIN Malang
Sorotan Tajam Anggota DPR RI: Kesenjangan Karier Guru Madrasah dan Urgensi Karakter
Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Dini Rahmania, S.IAN., M.M., yang baru saja menerima penghargaan sebagai anggota DPR terbaik di Jawa Timur atas dedikasinya, membuka acara dengan nada tegas dan inspiratif. Beliau menekankan bahwa perintah pertama dalam Islam, “Iqra’” (bacalah), adalah bukti kuat bahwa literasi dan pencarian ilmu merupakan fondasi utama dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya menjadi pelopor dalam dunia pendidikan.
Namun, Hj. Dini Rahmania juga menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi aktual pendidikan Islam yang dinilainya masih tertinggal dari segi kualitas pengajaran, manajemen, dan relevansi dengan zaman.
Pendidikan Karakter Jadi Fondasi Generasi Unggul
Ning Dini Rahmania sangat menekankan bahwa pendidikan Islam ideal tidak boleh hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi wajib menumbuhkan kecerdasan emosional dan spiritual peserta didik.
“Pendidikan yang ideal adalah yang mampu menyeimbangkan pengetahuan, akhlak, dan keimanan. Dari sanalah lahir generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan berdaya saing tinggi di tingkat global,” tegasnya.
Pendidikan karakter, menurut beliau, adalah fondasi untuk mencetak generasi yang berintegritas dan mampu memimpin dengan tanggung jawab melalui penanaman nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan empati.
Perjuangan Kesejahteraan Guru Madrasah
Salah satu isu “heboh” yang disoroti oleh Ning Dini adalah kesenjangan mencolok dalam perkembangan karier antara guru madrasah dan guru di sekolah umum. Beliau menjelaskan bahwa guru madrasah seringkali mengalami proses yang lebih panjang untuk diangkat sebagai ASN.
Ning Dini menegaskan Komisi VIII DPR RI terus berupaya memperjuangkan peningkatan kesejahteraan guru madrasah agar mendapatkan hak dan penghargaan yang setara dengan guru di lembaga pendidikan lainnya, termasuk dalam hal pengangkatan ASN dan peningkatan tunjangan.
“Perjuangan ini bukan semata soal kesejahteraan, tetapi juga pengakuan atas kontribusi besar guru madrasah dalam membangun karakter bangsa,” tegasnya , sembari berjanji akan menampung seluruh aspirasi dan memperjuangkannya melalui jalur legislatif di Senayan.
Warning dari Akademisi dan Pesantren: Inovasi Kurikulum dan Ketimpangan Kesejahteraan
Pengasuh Pondok Pesantren Anwarus Sholihin, Habib Ahmad bin Abdurrohman Ba’ali S.SOS., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi strategis antara pesantren, legislatif, dan institusi pendidikan tinggi ini. Habib Ahmad memberikan peringatan keras bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya.
Beliau menyoroti kondisi di Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan negara lain, mencontohkan peserta didik di negara lain sudah diperkenalkan dengan pembelajaran yang lebih modern seperti pemrograman komputer (coding) sejak usia dini serta literasi keuangan. Habib Ahmad menyerukan perlunya inovasi kurikulum dan peningkatan kompetensi guru agar pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan tantangan zaman.
Senada dengan itu, Dr. Muhammad Walid, M.A., mewakili Dekan FITK UIN Malang, menekankan bahwa dinamika pembelajaran telah bergeser di era modern; belajar tidak lagi terpaku di ruang kelas. Ia menyoroti peran sentral guru dalam menjaga minat belajar siswa , sebab guru yang baik harus mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan, inspiratif, dan menyenangkan.
Bapak Muhammad Walid juga memperkuat isu ketimpangan yang disampaikan Hj. Dini Rahmania. Ia menjelaskan bahwa secara kuantitas, jumlah madrasah lebih banyak dibandingkan sekolah umum, namun sebagian besar madrasah berstatus swasta dan dikelola oleh guru-guru non-ASN dengan kesejahteraan terbatas.
“Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih adil terhadap madrasah agar kualitas pengajaran dan pengelolaan lembaga dapat meningkat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan pentingnya menjaga marwah pendidikan madrasah dalam membentuk adab dan akhlak peserta didik, sebagai cerminan nilai Islam sejati.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang membahas isu penting seputar perbedaan karakteristik siswa zaman dahulu dan sekarang, serta prioritas antara adab dan ilmu dalam pendidikan. Forum ini diharapkan menjadi titik tolak bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah konkret penguatan pendidikan Islam.

Gambar 3. Foto bersama Tim Program Studi Tadris Matematika bersama dengan Dekan FITK, Anggota DPR RI Komisi VIII dan Pimpinan Pondok Pesantren